DOSEN : Zaenab, SKM.,M.Kes
MATA
KULIAH : PMM-B
KLB
KERACUNAN MAKANAN

DISUSUN
OLEH :
HENDRA
RURU
PO.71.3.221.13.1.020
Tingkat
II.A
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN AJARAN 2015/2016
PRODI DIII
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya-lah sehingga kita dapat menyelesaikan Makalah Kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Makanan ini dengan baik. Walaupun sederhana keadaannya, namun diharapkan agar dapat memberi mamfaat bagi kita semua.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini
masih banyak kekurangan dan kesalahan yang terjadi baik dalam bentuk penulisan
kata-kata maupun kalimat yang kurang baku, maka dari itu saran dan kritik
sangat kami harapkan demi kesempurnaannya makalah ini. Karena kami manusia
biasa yang tidak luput dari kesalahan.
Demikianlah makalah yang kami yang susun ini semoga
bermamfaat bagi kita semua, atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.
Makassar,19
Mei 2015
Penyusun
Hendra Ruru
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN......................................................................................................................... 1
A.
Latar Belakang.................................................................................................................... 1
B.
Tujuan................................................................................................................................. 2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................................ 3
A.
Defenisi
Keracunan Makanan............................................................................................. 3
B.
Mikroorganisme
Penyebab Keracunan Makanan................................................................ 4
C.
Criteria Kasus
Keracunan Makanan dapat Dikatakan sebagai KLB.................................. 5
D.
Etiologi
Penyebab Keracunan Makanan............................................................................. 5
BAB III
METODEOLOGI PENELITIAN................................................................................................. 6
A.
Jenis Kejadian
Luar Biasa................................................................................................... 6
B.
Waktu dan Lokasi
KLB..................................................................................................... 6
C.
Prosedur Metode
Penelitian................................................................................................ 6
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................................................... 7
A.
Hasil.................................................................................................................................... 7
B.
Analisa Hasil....................................................................................................................... 14
BAB V
PENUTUP...................................................................................................................................... 15
A.
Kesimpulan......................................................................................................................... 15
B.
Saran................................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................... 16
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Intoksikasi atau keracunan adalah
masuknya zat atau senyawa kimia dalam tubuh manusia yang menimbulkan efek
merugikan pada yang menggunakannya. Keracunan makanan bila seseorang mengalami
gangguan kesehatan setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi kuman atau
racun yang dihasilkan oleh kuman penyakit. Kuman yang paling sering
mengkontaminasi makanan adalah bakteri. Kuman ini dapat masuk ke dalam tubuh
kita melalui makanan dengan perantaraan orang yang mengolah makanan atau memang
berasal dari makanan itu sendiri akibat pengolahan yang kurang baik.
Racun adalah zat / bahan yang
apabila masuk ke dalam tubuh melalui mulut, hidung / inhalasi, suntikan dan
absorbsi melalui kulit atau di gunakan terhadap organisme hidup dengan dosis
relatif kecil akan merusak kehidupan / menggangu dengan serius fungsi satu /
lebih organ atau jaringan.
Karena adanya bahan- bahan yang
berbahaya, menteri kesehatan telah menetapkan peraturan no 435 / MEN. KES / X1
/ 1983 tanggal 16 November 1983 tentang bahan – bahan berbahaya. Karena tingkat
bahayanya yang meliputi besar dan luas jangkauan, kecepatan penjalaran dan
sulitnya dalam penanganan dan pengamanannya, bahan – bahan berbahaya atau yang
dapat membahayakan kesehatan manusia secara langsung atau tidak langsung.
Keracunan merupakan masuknya zat
atau senyawa kimia dalam tubuh manusia yang menimbulkan efek merugikan pada
yang menggunakannya.
Makanan
termasuk kebutuhan dasar terpenting dan sangat esensial dalam kehidupan
manusia. Disebut keracunan makanan bila seseorang mengalami gangguan kesehatan
setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri atau racun yang
dihasilkan oleh bakteri penyakit. Mikroorganisme ini dapat masuk ke dalam tubuh
kita melalui makanan dengan perantaraan orang yang mengolah makanan atau memang
berasal dari makanan itu sendiri akibat pengolahan yang kurang baik. Seperti
diketahui, bakteri sangat menyukai suasana lingkungan yang lembab dan bersuhu
ruangan. Pada kondisi ini, pertumbuhan bakteri akan meningkat dengan pesat.
Bila suhu ini ditingkatkan atau diturunkan maka perkembangan biakan bakteri pun
akan berkurang atau terhenti. Keracunan makanan merupakan penyakit yang
diakibatkan pengkonsumsian makanan atau minuman yang memiliki kandungan
bakteri, atau toksinnya, parasit, virus atau bahan-bahan kimia yang dapat
menyebabkan gangguan di dalam fungsi normal tubuh. Jenis keracunan makanan
disebabkan oleh biologikal (bakteria, fungi (kulat),Virus), fizikal(benda atau
bahan asing seperti rambut, cebisan kaca, paku dan lain-lain),kimia(racun
serangga, racun rumpai, bahan pencuci kimia, aditif makanan seperti pengawet
yang berlebihan). Tanda-tanda umum keracunan makanan diantaranya kekejangan
otot, demam, sering membuang air besar, tinja cair dan mungkin disertai darah,
nanah atau mukus, otot-otot lemah dan badan terasa sejuk, lesu dan muntah,
memulas dan sakit perut, kadangkala demam dan dehidrasi, hilang selera makan.
Untuk mencegah terjadinya keracunan makanan, kita sebaiknya melakukan
pengelolaan sistem higyen yang baik, pengolahan makanan yang baik, hindari
terjadi kontaminasi dari mana pun, simpan makanan dalam suhu yang tepat
(<5oc untuk makanan yang disimpan dalam kulkas dan > 60oc untuk makanan
yang panas), hindari makan makanan yang asam yang dikemas dalam kemasan yang
terbuat dari logam, hindari makan jamur yang liar, hindari mengkonsumsi makanan
setengah matang.
Badan POM RI melalui Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan,
secara rutin memonitor kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan di Indonesia
khususnya keracunan yang telah diketahui waktu paparannya (point source)
seperti pesta, perayaan, acara keluarga dan acara sosial lainnya. Selama tahun
2004, berdasarkan laporan Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia telah
terjadi kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan sebanyak 153 kejadian di 25
propinsi.
Jumlah KLB keracunan pangan pada bulan Januari sampai Desember 2004, adalah
153 kejadian di 25 propinsi. Kasus keracunan pangan yang dilaporkan berjumlah
7347 kasus termasuk 45 orang meninggal dunia.
B.
Tujuan
1. Untuk
Mengetahui Jenis Penyakit Keracunan Makanan yang Terjadi
2. Untuk
Mengetahui Jumlah Orang yang Terkena Keracunan Makanan
3. Untuk
Memahami cara Penanganan Mengenai KLB Keracunan Makanan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Defenisi Keracunan Makanan
Menurut Undang-Undang No.7 tahun 1996, keamanan
pangan didefinisikan sebagai suatu kondisi dan upaya yang diperlukan untuk
mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang
dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia.
Disebut keracunan makanan bila seseorang mengalami
gangguan kesehatan setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri
atau racun yang dihasilkan oleh bakteri penyakit. Mikroorganisme ini dapat
masuk ke dalam tubuh kita melalui makanan dengan perantaraan orang yang
mengolah makanan atau memang berasal dari makanan itu sendiri akibat pengolahan
yang kurang baik. Seperti diketahui, bakteri sangat menyukai suasana lingkungan
yang lembab dan bersuhu ruangan. Pada kondisi ini, pertumbuhan bakteri akan
meningkat dengan pesat. Bila suhu ini ditingkatkan atau diturunkan maka
perkembangan biakan bakteri pun akan berkurang atau terhenti.
Keracunan makanan merupakan penyakit yang
diakibatkan pengkonsumsian makanan atau minuman yang memiliki kandungan
bakteri, dan atau toksinnya, parasit, virus atau bahan-bahan kimia yang dapat
menyebabkan gangguan di dalam fungsi normal tubuh.
Keracunan makanan adalah penyakit yang berlaku akibat memakan makanan yang tercemar. Makanan dikatakan tercemar jika ia mengandungi sesuatu benda atau bahan yang tidak seharusnya berada di dalamnya.Keracunan makanan merupakan sejenis gastroenteritis yang disebabkan oleh makanan yang telah dicemari racun, biasanya bakteria. Bergantung kepada jenis racun, kekejangan abdomen, demam, muntah dan cirit-birit akan berlaku dalam waktu 3 hingga 24 jam.
Keracunan makanan adalah penyakit yang berlaku akibat memakan makanan yang tercemar. Makanan dikatakan tercemar jika ia mengandungi sesuatu benda atau bahan yang tidak seharusnya berada di dalamnya.Keracunan makanan merupakan sejenis gastroenteritis yang disebabkan oleh makanan yang telah dicemari racun, biasanya bakteria. Bergantung kepada jenis racun, kekejangan abdomen, demam, muntah dan cirit-birit akan berlaku dalam waktu 3 hingga 24 jam.
B.
Mikroorganisme
Penyebab Keracunan Makanan
1. Clostridium botulinum
Bakteri
Clostridium botulinum menghasilkan racun yang mencegah transmisi impuls saraf
ke otot . Mual, muntah dan kram perut adalah gejala umum yang ditimbulkannya. Efek
dimulai pada syaraf di kepala sehingga menyebabkan penglihatan kabur/ganda dan
kesulitan menelan, kemudian menyebar ke punggung sehingga menyebabkan
kelumpuhan otot lengan, otot pernapasan, dan mungkin juga otot kaki. Gejala ini
biasanya muncul 4-36 jam setelah menelan toksin, tetapi bisa memakan waktu
hingga delapan hari. Makanan kaleng adalah sumber utama botulisme (keracunan
botulinum). Selain itu, botulisme juga dapat bersumber dari makanan bayi, yang
dapat berakibat fatal bagi kelompok usia ini.
Cara terbaik untuk mencegah botulisme adalah mengikuti petunjuk yang benar dalam menyiapkan dan menyajikan makanan di rumah. Makanan yang terkontaminasi sering memiliki bau busuk, meskipun tidak selalu demikian. Botulisme adalah kedaruratan medis yang harus segera mendapatkan perawatan. Dengan tersedianya antitoksin, 90% lebih pasien botulisme dapat diselamatkan.
Cara terbaik untuk mencegah botulisme adalah mengikuti petunjuk yang benar dalam menyiapkan dan menyajikan makanan di rumah. Makanan yang terkontaminasi sering memiliki bau busuk, meskipun tidak selalu demikian. Botulisme adalah kedaruratan medis yang harus segera mendapatkan perawatan. Dengan tersedianya antitoksin, 90% lebih pasien botulisme dapat diselamatkan.
2. Salmonella gastro
Salmonellosis
mengacu pada sejumlah penyakit yang disebabkan oleh bakteri salmonella. Salah
satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini adalah demam tifoid. Bentuk umum
salmonellosis adalah gastroenteritis yang disebabkan oleh bakteri salmonella
gastro. Bakteri ini dapat menyebar dari orang ke orang dan dari hewan ke
orang. Makanan yang biasanya mengandung
salmonella adalah daging, daging unggas, susu dan telur. Salmonella sering
ditularkan melalui kontak dengan kotoran atau pakan ternak atau melalui makanan
yang terkontaminasi kotoran hewan. Buah dan sayuran yang tidak dicuci dengan
bersih juga dapat menyebarkan bakteri ini.
3. Escherichia coli
Kebanyakan
strain Escherichia coli (E. coli) adalah bakteri bermanfaat yang hidup dalam
sistem pencernaan. Mereka tidak menyebabkan penyakit. Namun beberapa strain E.
coli dapat menyebabkan efek keracunan pada tubuh. Salah satu strain yang paling
ditakuti adalah E. coli 0157 yang menghasilkan racun yang disebut toksin
Shiga. Racun ini merusak sel-sel dinding
usus sehingga menimbulkan perdarahan. Toksin E. coli 0157 juga memecah sel
darah merah, menyebabkan anemia dan menurunkan jumlah trombosit. Pada 10%
kasus, keracunan E. coli berlanjut sehingga menyebabkan kerusakan ginjal dan
organ penting lainnya. Risiko kematian terutama tinggi pada anak-anak dan
lansia.E. coli 0157 memiliki masa inkubasi antara 1-3 hari.
C.
Suatu Kasus Keracunan Makanan dapat dikatakan
sebagai KLB jika terdapat criteria sebagai berikut :
1.
,Timbulnya suatu penyakit/penyakit menular yang sebelumnya
tidak ada/tidak dikenal.
2.
Peningkatan
kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut
menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
3.
Peningkatan
kejadian penyakit/kematian, dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode
sebelumnya (hari, minggu, bulan, tahun).
4.
Jumlah
penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih
bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
5.
Angka
rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau
lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya.
6.
Case
Fatality Rate (CFR) dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu
menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibanding dengan CFR dari periode
sebelumnya.
7. Propotional rate (PR) penderita baru
dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding
periode yang sama dan kurun waktu atau tahun sebelumnya.
D. Etiologi Penyebab
Keracunan Makanan
Penyebab keracunan ada beberapa
macam dan akibatnya bisa mulai yang ringan sampai yang berat. Secara umum yang
banyak terjadi di sebabkan oleh :
1. Mikroba
Mikroba
yang menyebabkan keracunan di antaranya :
a.
Escherichia
coli pathogen
b.
Staphilococus
aureus
c.
Salmonella
d.
Bacillus
Parahemolyticus
e.
Clostridium
Botulisme
f.
Streptokkkus
2. Bahan Kimia
a. Peptisida golongan organofosfat
b. Organo Sulfat dan karbonat
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Jenis Kejadian Luar Biasa
Dari
hasil penelitian mengenai kasus KLB adalah keracunan makanan Puluhan warga Desa Cibeureum, Cianjur, Jawa Barat,
dibawa ke RSUD setempat, Sabtu (14/02/2013) sekitar pukul 22.15 WIB karena
diduga keracunan setelah menyantap nasi dus yang jenis makanannya Nasi,Sayur
dan Tempe pada acara tujuh bulanan seorang warga.
B. Waktu dan Lokasi Kejadian Luar Biasa
Ø Hari/tanggal :
Sabtu,14 Februari 2015
Ø Pukul :
22.15 WIB
Ø Lokasi :
Desa Cibereum,Cianjur,Jawa Barat
C. Prosedur Metode Penelitian
1.
Cara Menganalisa
Pengumpulan Data
-
Lihat kasus KLB
apa yang terjadi baru lakukan survey
-
Ambil sampel
makanan yang ada pada saat terjadi keracunan
-
Pengolahan data
-
Penarikan
kesimpulan untuk pemeriksaan lanjutan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
1. Kasus
REPUBLIKA.CO.ID,CIANJUR--Puluhan warga Desa
Cibeureum, Cianjur, Jawa Barat, dibawa ke RSUD setempat, Sabtu (14/2/2015)
sekitar pukul 22.15 WIB karena diduga keracunan setelah menyantap nasi dus yang
jenis makanannya Nasi,Sayur,Tempe,Air Minum,dan Mie pada acara tujuh bulanan
seorang warga.
"Usai shalat Magrib, ada pengajian dan ceramah
dari ustaz setempat. Ketika hendak pulang, kami diberi nasi dus dari yang punya
hajat. Bahkan, beberapa orang ada yang makan di tempat acara," kata Aan
Husen (32 tahun), warga Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang.
Selang beberapa puluh menit usai menyantap nasi dus
tersebut, beberapa orang warga mengeluhkan mual, sakit kepala, perut terasa
keram dan muntah. Beberapa orang di antaranya terpaksa dilarikan ke RSUD
Cianjur karena kondisinya mulai memprihatinkan.
Dalam 15 menit, kata dia, jumlah warga yang diduga
keracunan nasi dus tersebut terus bertambah dan langsung dibawa ke rumah sakit.
Sementara itu, seorang perawat di IGD RSUD Cianjur
membenarkan hingga menjelang tengah malam jumlah warga Cibeureum yang mengalami
keracunan terus bertambah, yakni dari 11 orang menjadi 53 orang.
"Sebagian besar mengeluhkan hal yang sama mual,
pusing dan muntah. Kami belum bisa memastikan penyebabnya karena bukan wewenang
kami. Namun, melihat gejalanya sebagian besar warga mengalami keracunan,
kondisi mereka sebagian besar mengalami dehidrasi," kata perawat
berkacamata itu.
Ia memperkirakan jumlah warga yang keracunan akan
terus bertambah karena informasi yang didapat dari warga yang mengantarkan
korban keracunan, jumlah warga yang ikut dalam acara tujuh bulanan itu 100
orang.
"Saat ini kami cukup kewalahan karena jumlah
korban terus bertambah dan diperkirakan akan terus bertambah, sedangkan IGD
saat ini sudah penuh, kemungkinan korban lain akan ditangani di luar
IGD,".
2.
Jumlah Korban
yang Terlibat dalam Keracunan Makanan
Seorang
perawat di IGD RSUD Cianjur membenarkan hingga menjelang tengah malam jumlah
warga Cibeureum yang mengalami keracunan terus bertambah, yakni dari 11 orang
menjadi 53 orang.
3.
Masa Inkubasi
dan Gejalah yang ditimbulkan
Selang
beberapa puluh menit usai menyantap nasi dus tersebut, beberapa orang warga
mengeluhkan mual, sakit kepala, perut terasa keram dan muntah. Beberapa orang
di antaranya terpaksa dilarikan ke RSUD Cianjur karena kondisinya mulai
memprihatinkan.
Dalam
15 menit, kata dia, jumlah warga yang diduga keracunan nasi dus tersebut terus
bertambah dan langsung dibawa ke rumah sakit.
Tabel 1 : Gejala Keracunan Makanan warga Desa Cibeureum,
Cianjur, Jawa Barat
|
NO
|
GEJALA
|
JUMLAH PENDERITA
|
PERSENTASE %
|
|
1
|
Mual
|
20
|
37.73%
|
|
2
|
Sakit Kepala
|
7
|
13.20%
|
|
3
|
Keram Perut
|
18
|
33.96%
|
|
4
|
Muntah
|
8
|
15.09%
|
|
|
Jumlah
|
53 Orang
|
100%
|
Grafik Batang Gejala Keracunan Makanan

Persentase
Gejala Penyakit

4.
Jenis Makanan
yang Dikomsumsi dan Hubungannya dengan Angka Kesakitan (Morbiditas)
Keracunan
setelah menyantap nasi dus yang jenis makanannya Nasi, Sayur dan Tempe pada
acara tujuh bulanan seorang warga.
Berdasarkan data tersebut, dapat pula dideskripsikan hubungan antara menu makanan
yang dikonsumsi dengan jumlah kasus keracunan makanan yaitu sebagai berikut:
Tabel 2 : Data Hubungan Komsumsi Makanan dengan Kasus
Keracunan Makanan warga Desa Cibeureum, Cianjur, Jawa Barat.
|
No
|
Jenis Makanan
|
Makan Makanan Tertentu
|
Tidak Makan Makanan Tertentu
|
AR
|
||||||
|
Sakit
|
Tidak
Sakit
|
Total
|
%
|
|
|
|
|
|||
|
Sakit
|
Tidak Sakit
|
Total
|
%
|
|||||||
|
1
|
Nasi
|
32
|
21
|
53
|
60.37%
|
12
|
34
|
46
|
26.08%
|
34.29
|
|
2
|
Sayur
|
40
|
13
|
53
|
75.47%
|
7
|
39
|
46
|
15.21%
|
60.26
|
|
3
|
Tempe
|
36
|
17
|
53
|
67.92%
|
16
|
40
|
46
|
34.78%
|
33.14
|
|
4
|
Air
Minum
|
15
|
38
|
53
|
28.30%
|
9
|
37
|
46
|
19.56%
|
8.74
|
|
5
|
Mie
|
50
|
3
|
53
|
94.33%
|
22
|
24
|
46
|
47.82%
|
46.51
|
Grafik
Makan Makanan Tertentu

Grafik tidak
Makan Makanan Tertentu

5.
Perhitungan
Attack Rate (AR)
Perhitungan
Attack Rate (AR) data kasus KLB berdasarkan
jenis makanan tertentu yang dikonsumsinya. Rumus umum:
% AR = % sakit (makan) - % sakit (# makan)
Ø Nasi =
60.37 – 26.08 = 34.29
Ø Sayur = 75.47 – 15.21 = 60.26
Ø Tempe = 67.92 – 34.78 = 33.14
Ø Air Minum = 28.30 – 19.56 = 8.74
Ø Mie =
94.33 – 47.82 = 46.51
Grafik Attack Rate (AR)

6.
Menghitung Case Fatality
Rate (CFR)
Jumlah orang yang meninggal dari kasus KLB tersebut Tidak ada, jadi Case Fatality Rate (CFR)nya adalah Tidak
Terjadi Angka Kematian pada KLB tersebut.
Jadi, angka kematian untuk kasus keracunan yaitu CFR 0 %.
B. Analisa Hasil
Dari data yang diperoleh mengenai kasus Keracunan
Makanan yang terjadi di Desa Cibereum, Cianjur, Jawa Barat, pada hari Sabtu
(14/2/2015) sekitar pukul 22.15 WIB, menyebabkan 53 orang keracunan makanan dari
100 orang yang hadir di Acara Tujuh Bulanan Seorang warga maka dari itu dapat
dianalisa bahwa dari 53 orang yang keracunan makanan masing-masing ada gejala
penyakit yang dialami seperti Mual, Sakit Kepala, Keram Perut, dan Muntah.
Dan dari gejala penyakit yang ada rasa Mual yang
paling banyak di derita oleh warga yang hadir diacara tersebut dengan persentase
37.73% dan jenis makanan yang
banyak menyebabkan angka kesakitan
adalah Mie karena dari 53 orang yang makan rata-rata makan Mie, maka dari itu Mie
sebagai factor utama penyebab keracunan makanan hal ini disebabkan karena mie
tersebut diduga mengandung formalin dan boraks karena untuk mempertahankan daya
awet mie sehingga pedagang bisa mencampurkan BTM yang berbahaya pada makanan.
Sehingga pada saat acara tujuh bulanan di salah satu rumah warga, terjadi KLB
tentang Keracunan Makanan akibat makan mie yang mengandung Formalin dan Boraks
dan bahan bakunya sudah kadaluarsa, sehingga dari 53 orang yang sakit 50 yang
makan mie maka dari itu mie dikatakan sebagai kasus penyebab keracunan makanan.
Dan jumlah orang yang meninggal dari keracunan
makanan ini adalah 0% atau tidak ada angka Mortalitas.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian kasus tentang KLB Keracunan
Makanan dapat disimpulkan bahwa jenis penyakit yang diderita warga setelah
makan nasi dus untuk acara tujuh bulanan adalah Mual, Sakit Kepala, Perut
Keram,dan Muntah.
Dan jumlah warga yang terkena Keracunan Makanan
adalah 53 orang dari 100 orang yang hadir pada acara tujuh bulanan di rumah warga
tersebut. Dan 53 orang ini ada 50 orang atau37.73% yang merasakan mual akibat
makan Mie karena diduga mie mengandung bahan tambahan makanan yang berbahaya
seperti Formalin dan Boraks.
Cara penanganan dari kasus keracunan makanan
tersebut adalah semuanya dibawah ke RSUD Cianjur untuk perawatan dan diagnose
oleh dokter. Dan untuk sampel makanan sperti mie akan ditinjak lanjuti dengan
pemeriksaan di Laboratorium.
B. Saran
Dari Kasus tentang KLB Keracunan Makanan tersebut
saran saya yaitu sebaiknya dalam pemilihan bahan makanan harus ditempat yang
memiliki sertifikat BPOM sebagai tanda bahwa restoran atau warung makan
tersebut tidak ada Bahan Tambahan Makanan yang ditambahkan dalam makanan yang
mereka jual.
dan saran untuk pemerintah sebaiknya jika terjadi kasus
KLB Keracunan Makanan harus ditindaklanjuti dan setiap rumah makan harus
diperiksa sampel makanannya dan diberi sertifikat oleh BPOM sebagai tanda bahwa
layak dikomsumsi.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
KASUS
Makan Nasi Hajatan, 53 Orang Diduga Keracunan Makanan
Minggu, 15 Februari 2015, 06:10 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,CIANJUR--Puluhan
warga Desa Cibeureum, Cianjur, Jawa Barat, dibawa ke RSUD setempat, Sabtu (14/2/2015)
sekitar pukul 22.15 WIB karena diduga keracunan setelah menyantap nasi dus yang
jenis makanannya Nasi, Sayur,Tempe,Air Minum dan Mie pada acara tujuh bulanan
seorang warga.
"Usai
shalat Magrib, ada pengajian dan ceramah dari ustaz setempat. Ketika hendak
pulang, kami diberi nasi dus dari yang punya hajat. Bahkan, beberapa orang ada
yang makan di tempat acara," kata Aan Husen (32 tahun), warga Desa Cibeureum,
Kecamatan Cugenang.
Selang
beberapa puluh menit usai menyantap nasi dus tersebut, beberapa orang warga
mengeluhkan mual, sakit kepala, perut terasa keram dan muntah. Beberapa orang
di antaranya terpaksa dilarikan ke RSUD Cianjur karena kondisinya mulai
memprihatinkan.
Dalam
15 menit, kata dia, jumlah warga yang diduga keracunan nasi dus tersebut terus
bertambah dan langsung dibawa ke rumah sakit.
Sementara
itu, seorang perawat di IGD RSUD Cianjur membenarkan hingga menjelang tengah
malam jumlah warga Cibeureum yang mengalami keracunan terus bertambah, yakni dari
11 orang menjadi 53 orang.
"Sebagian
besar mengeluhkan hal yang sama mual, pusing dan muntah. Kami belum bisa
memastikan penyebabnya karena bukan wewenang kami. Namun, melihat gejalanya
sebagian besar warga mengalami keracunan, kondisi mereka sebagian besar
mengalami dehidrasi," kata perawat berkacamata itu.
Ia
memperkirakan jumlah warga yang keracunan akan terus bertambah karena informasi
yang didapat dari warga yang mengantarkan korban keracunan, jumlah warga yang
ikut dalam acara tujuh bulanan itu 100 orang.
"Saat
ini kami cukup kewalahan karena jumlah korban terus bertambah dan diperkirakan
akan terus bertambah, sedangkan IGD saat ini sudah penuh, kemungkinan korban
lain akan ditangani di luar IGD,".
Hotel El Cortez Casino & Spa - Mapyro
BalasHapusThe casino is close to the beach and 고양 출장안마 its surroundings. The location has some 인천광역 출장샵 of the 세종특별자치 출장안마 best soundscape features 영천 출장샵 in 출장안마 gaming, while the