Minggu, 07 Juni 2015


DOSEN                 : Zaenab, SKM.,M.Kes
MATA KULIAH     : PMM-B

KLB KERACUNAN MAKANAN
http://ts4.mm.bing.net/th?id=H.4615458963982199&pid=15.1

DISUSUN OLEH :
HENDRA RURU
PO.71.3.221.13.1.020
Tingkat II.A




KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN AJARAN 2015/2016
PRODI DIII


KATA PENGANTAR

            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya-lah sehingga kita dapat menyelesaikan Makalah Kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Makanan ini dengan baik. Walaupun sederhana keadaannya, namun diharapkan agar  dapat memberi mamfaat bagi kita semua.
            Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan yang terjadi baik dalam bentuk penulisan kata-kata maupun kalimat yang kurang baku, maka dari itu saran dan kritik sangat kami harapkan demi kesempurnaannya makalah ini. Karena kami manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.
            Demikianlah makalah yang kami yang susun ini semoga bermamfaat bagi kita semua, atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.




Makassar,19 Mei 2015
Penyusun


 


Hendra Ruru


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN......................................................................................................................... 1
A.    Latar Belakang.................................................................................................................... 1
B.     Tujuan................................................................................................................................. 2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................................ 3
A.    Defenisi Keracunan Makanan............................................................................................. 3
B.     Mikroorganisme Penyebab Keracunan Makanan................................................................ 4
C.     Criteria Kasus Keracunan Makanan dapat Dikatakan sebagai KLB.................................. 5
D.    Etiologi Penyebab Keracunan Makanan............................................................................. 5
BAB III
METODEOLOGI PENELITIAN................................................................................................. 6
A.    Jenis Kejadian Luar Biasa................................................................................................... 6
B.     Waktu dan Lokasi KLB..................................................................................................... 6
C.     Prosedur Metode Penelitian................................................................................................ 6
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................................................... 7
A.    Hasil.................................................................................................................................... 7
B.     Analisa Hasil....................................................................................................................... 14
BAB V
PENUTUP...................................................................................................................................... 15
A.    Kesimpulan......................................................................................................................... 15
B.     Saran................................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................... 16
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Intoksikasi atau keracunan adalah masuknya zat atau senyawa kimia dalam tubuh manusia yang menimbulkan efek merugikan pada yang menggunakannya. Keracunan makanan bila seseorang mengalami gangguan kesehatan setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi kuman atau racun yang dihasilkan oleh kuman penyakit. Kuman yang paling sering mengkontaminasi makanan adalah bakteri. Kuman ini dapat masuk ke dalam tubuh kita melalui makanan dengan perantaraan orang yang mengolah makanan atau memang berasal dari makanan itu sendiri akibat pengolahan yang kurang baik.
Racun adalah zat / bahan yang apabila masuk ke dalam tubuh melalui mulut, hidung / inhalasi, suntikan dan absorbsi melalui kulit atau di gunakan terhadap organisme hidup dengan dosis relatif kecil akan merusak kehidupan / menggangu dengan serius fungsi satu / lebih organ atau jaringan.
Karena adanya bahan- bahan yang berbahaya, menteri kesehatan telah menetapkan peraturan no 435 / MEN. KES / X1 / 1983 tanggal 16 November 1983 tentang bahan – bahan berbahaya. Karena tingkat bahayanya yang meliputi besar dan luas jangkauan, kecepatan penjalaran dan sulitnya dalam penanganan dan pengamanannya, bahan – bahan berbahaya atau yang dapat membahayakan kesehatan manusia secara langsung atau tidak langsung.
Keracunan merupakan masuknya zat atau senyawa kimia dalam tubuh manusia yang menimbulkan efek merugikan pada yang menggunakannya.
Makanan termasuk kebutuhan dasar terpenting dan sangat esensial dalam kehidupan manusia. Disebut keracunan makanan bila seseorang mengalami gangguan kesehatan setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri atau racun yang dihasilkan oleh bakteri penyakit. Mikroorganisme ini dapat masuk ke dalam tubuh kita melalui makanan dengan perantaraan orang yang mengolah makanan atau memang berasal dari makanan itu sendiri akibat pengolahan yang kurang baik. Seperti diketahui, bakteri sangat menyukai suasana lingkungan yang lembab dan bersuhu ruangan. Pada kondisi ini, pertumbuhan bakteri akan meningkat dengan pesat. Bila suhu ini ditingkatkan atau diturunkan maka perkembangan biakan bakteri pun akan berkurang atau terhenti. Keracunan makanan merupakan penyakit yang diakibatkan pengkonsumsian makanan atau minuman yang memiliki kandungan bakteri, atau toksinnya, parasit, virus atau bahan-bahan kimia yang dapat menyebabkan gangguan di dalam fungsi normal tubuh. Jenis keracunan makanan disebabkan oleh biologikal (bakteria, fungi (kulat),Virus), fizikal(benda atau bahan asing seperti rambut, cebisan kaca, paku dan lain-lain),kimia(racun serangga, racun rumpai, bahan pencuci kimia, aditif makanan seperti pengawet yang berlebihan). Tanda-tanda umum keracunan makanan diantaranya kekejangan otot, demam, sering membuang air besar, tinja cair dan mungkin disertai darah, nanah atau mukus, otot-otot lemah dan badan terasa sejuk, lesu dan muntah, memulas dan sakit perut, kadangkala demam dan dehidrasi, hilang selera makan. Untuk mencegah terjadinya keracunan makanan, kita sebaiknya melakukan pengelolaan sistem higyen yang baik, pengolahan makanan yang baik, hindari terjadi kontaminasi dari mana pun, simpan makanan dalam suhu yang tepat (<5oc untuk makanan yang disimpan dalam kulkas dan > 60oc untuk makanan yang panas), hindari makan makanan yang asam yang dikemas dalam kemasan yang terbuat dari logam, hindari makan jamur yang liar, hindari mengkonsumsi makanan setengah matang.
Badan POM RI melalui Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan, secara rutin memonitor kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan di Indonesia khususnya keracunan yang telah diketahui waktu paparannya (point source) seperti pesta, perayaan, acara keluarga dan acara sosial lainnya. Selama tahun 2004, berdasarkan laporan Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia telah terjadi kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan sebanyak 153 kejadian di 25 propinsi.
Jumlah KLB keracunan pangan pada bulan Januari sampai Desember 2004, adalah 153 kejadian di 25 propinsi. Kasus keracunan pangan yang dilaporkan berjumlah 7347 kasus termasuk 45 orang meninggal dunia.
B.     Tujuan
1.      Untuk Mengetahui Jenis Penyakit Keracunan Makanan yang Terjadi
2.      Untuk Mengetahui Jumlah Orang yang Terkena Keracunan Makanan
3.      Untuk Memahami cara Penanganan Mengenai KLB Keracunan Makanan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Defenisi Keracunan Makanan
Menurut Undang-Undang No.7 tahun 1996, keamanan pangan didefinisikan sebagai suatu kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia.
Disebut keracunan makanan bila seseorang mengalami gangguan kesehatan setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri atau racun yang dihasilkan oleh bakteri penyakit. Mikroorganisme ini dapat masuk ke dalam tubuh kita melalui makanan dengan perantaraan orang yang mengolah makanan atau memang berasal dari makanan itu sendiri akibat pengolahan yang kurang baik. Seperti diketahui, bakteri sangat menyukai suasana lingkungan yang lembab dan bersuhu ruangan. Pada kondisi ini, pertumbuhan bakteri akan meningkat dengan pesat. Bila suhu ini ditingkatkan atau diturunkan maka perkembangan biakan bakteri pun akan berkurang atau terhenti.
Keracunan makanan merupakan penyakit yang diakibatkan pengkonsumsian makanan atau minuman yang memiliki kandungan bakteri, dan atau toksinnya, parasit, virus atau bahan-bahan kimia yang dapat menyebabkan gangguan di dalam fungsi normal tubuh.
Keracunan makanan adalah penyakit yang berlaku akibat memakan makanan yang tercemar. Makanan dikatakan tercemar jika ia mengandungi sesuatu benda atau bahan yang tidak seharusnya berada di dalamnya.Keracunan makanan merupakan sejenis gastroenteritis yang disebabkan oleh makanan yang telah dicemari racun, biasanya bakteria. Bergantung kepada jenis racun, kekejangan abdomen, demam, muntah dan cirit-birit akan berlaku dalam waktu 3 hingga 24 jam.

B.     Mikroorganisme Penyebab Keracunan Makanan
1.      Clostridium botulinum
Bakteri Clostridium botulinum menghasilkan racun yang mencegah transmisi impuls saraf ke otot . Mual, muntah dan kram perut adalah gejala umum yang ditimbulkannya. Efek dimulai pada syaraf di kepala sehingga menyebabkan penglihatan kabur/ganda dan kesulitan menelan, kemudian menyebar ke punggung sehingga menyebabkan kelumpuhan otot lengan, otot pernapasan, dan mungkin juga otot kaki. Gejala ini biasanya muncul 4-36 jam setelah menelan toksin, tetapi bisa memakan waktu hingga delapan hari. Makanan kaleng adalah sumber utama botulisme (keracunan botulinum). Selain itu, botulisme juga dapat bersumber dari makanan bayi, yang dapat berakibat fatal bagi kelompok usia ini.
Cara terbaik untuk mencegah botulisme adalah mengikuti petunjuk yang benar dalam menyiapkan dan menyajikan makanan di rumah. Makanan yang terkontaminasi sering memiliki bau busuk, meskipun tidak selalu demikian. Botulisme adalah kedaruratan medis yang harus segera mendapatkan perawatan. Dengan tersedianya antitoksin, 90% lebih pasien botulisme dapat diselamatkan.
2.      Salmonella gastro
Salmonellosis mengacu pada sejumlah penyakit yang disebabkan oleh bakteri salmonella. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini adalah demam tifoid. Bentuk umum salmonellosis adalah gastroenteritis yang disebabkan oleh bakteri salmonella gastro. Bakteri ini dapat menyebar dari orang ke orang dan dari hewan ke orang.  Makanan yang biasanya mengandung salmonella adalah daging, daging unggas, susu dan telur. Salmonella sering ditularkan melalui kontak dengan kotoran atau pakan ternak atau melalui makanan yang terkontaminasi kotoran hewan. Buah dan sayuran yang tidak dicuci dengan bersih juga dapat menyebarkan bakteri ini.
3.      Escherichia coli
Kebanyakan strain Escherichia coli (E. coli) adalah bakteri bermanfaat yang hidup dalam sistem pencernaan. Mereka tidak menyebabkan penyakit. Namun beberapa strain E. coli dapat menyebabkan efek keracunan pada tubuh. Salah satu strain yang paling ditakuti adalah E. coli 0157 yang menghasilkan racun yang disebut toksin Shiga.  Racun ini merusak sel-sel dinding usus sehingga menimbulkan perdarahan. Toksin E. coli 0157 juga memecah sel darah merah, menyebabkan anemia dan menurunkan jumlah trombosit. Pada 10% kasus, keracunan E. coli berlanjut sehingga menyebabkan kerusakan ginjal dan organ penting lainnya. Risiko kematian terutama tinggi pada anak-anak dan lansia.E. coli 0157 memiliki masa inkubasi antara 1-3 hari.

C.     Suatu Kasus Keracunan Makanan dapat dikatakan sebagai KLB jika terdapat criteria sebagai berikut :
1.      ,Timbulnya suatu penyakit/penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal.
2.      Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
3.      Peningkatan kejadian penyakit/kematian, dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (hari, minggu, bulan, tahun).
4.      Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
5.      Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya.
6.      Case Fatality Rate (CFR) dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibanding dengan CFR dari periode sebelumnya.
7.      Propotional rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding periode yang sama dan kurun waktu atau tahun sebelumnya.
D.    Etiologi Penyebab Keracunan Makanan
Penyebab keracunan ada beberapa macam dan akibatnya bisa mulai yang ringan sampai yang berat. Secara umum yang banyak terjadi di sebabkan oleh :
1.      Mikroba
Mikroba yang menyebabkan keracunan di antaranya :
a.     Escherichia coli pathogen
b.     Staphilococus aureus
c.      Salmonella
d.     Bacillus Parahemolyticus
e.      Clostridium Botulisme
f.       Streptokkkus
2.      Bahan Kimia
a.       Peptisida golongan organofosfat
b.      Organo Sulfat dan karbonat
















BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Kejadian Luar Biasa
Dari hasil penelitian mengenai kasus KLB adalah keracunan makanan Puluhan warga Desa Cibeureum, Cianjur, Jawa Barat, dibawa ke RSUD setempat, Sabtu (14/02/2013) sekitar pukul 22.15 WIB karena diduga keracunan setelah menyantap nasi dus yang jenis makanannya Nasi,Sayur dan Tempe pada acara tujuh bulanan seorang warga.
B.     Waktu dan Lokasi Kejadian Luar Biasa
Ø  Hari/tanggal    : Sabtu,14 Februari 2015
Ø  Pukul               : 22.15 WIB
Ø  Lokasi             : Desa Cibereum,Cianjur,Jawa Barat

C.     Prosedur Metode Penelitian
1.      Cara Menganalisa Pengumpulan Data
-          Lihat kasus KLB apa yang terjadi baru lakukan survey
-          Ambil sampel makanan yang ada pada saat terjadi keracunan
-          Pengolahan data
-          Penarikan kesimpulan untuk pemeriksaan lanjutan






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
1.      Kasus
REPUBLIKA.CO.ID,CIANJUR--Puluhan warga Desa Cibeureum, Cianjur, Jawa Barat, dibawa ke RSUD setempat, Sabtu (14/2/2015) sekitar pukul 22.15 WIB karena diduga keracunan setelah menyantap nasi dus yang jenis makanannya Nasi,Sayur,Tempe,Air Minum,dan Mie pada acara tujuh bulanan seorang warga.
"Usai shalat Magrib, ada pengajian dan ceramah dari ustaz setempat. Ketika hendak pulang, kami diberi nasi dus dari yang punya hajat. Bahkan, beberapa orang ada yang makan di tempat acara," kata Aan Husen (32 tahun), warga Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang.
Selang beberapa puluh menit usai menyantap nasi dus tersebut, beberapa orang warga mengeluhkan mual, sakit kepala, perut terasa keram dan muntah. Beberapa orang di antaranya terpaksa dilarikan ke RSUD Cianjur karena kondisinya mulai memprihatinkan.
Dalam 15 menit, kata dia, jumlah warga yang diduga keracunan nasi dus tersebut terus bertambah dan langsung dibawa ke rumah sakit.
Sementara itu, seorang perawat di IGD RSUD Cianjur membenarkan hingga menjelang tengah malam jumlah warga Cibeureum yang mengalami keracunan terus bertambah, yakni dari 11 orang menjadi 53 orang.
"Sebagian besar mengeluhkan hal yang sama mual, pusing dan muntah. Kami belum bisa memastikan penyebabnya karena bukan wewenang kami. Namun, melihat gejalanya sebagian besar warga mengalami keracunan, kondisi mereka sebagian besar mengalami dehidrasi," kata perawat berkacamata itu.
Ia memperkirakan jumlah warga yang keracunan akan terus bertambah karena informasi yang didapat dari warga yang mengantarkan korban keracunan, jumlah warga yang ikut dalam acara tujuh bulanan itu 100 orang.
"Saat ini kami cukup kewalahan karena jumlah korban terus bertambah dan diperkirakan akan terus bertambah, sedangkan IGD saat ini sudah penuh, kemungkinan korban lain akan ditangani di luar IGD,".

2.      Jumlah Korban yang Terlibat dalam Keracunan Makanan
Seorang perawat di IGD RSUD Cianjur membenarkan hingga menjelang tengah malam jumlah warga Cibeureum yang mengalami keracunan terus bertambah, yakni dari 11 orang menjadi 53 orang.
3.      Masa Inkubasi dan Gejalah yang ditimbulkan
Selang beberapa puluh menit usai menyantap nasi dus tersebut, beberapa orang warga mengeluhkan mual, sakit kepala, perut terasa keram dan muntah. Beberapa orang di antaranya terpaksa dilarikan ke RSUD Cianjur karena kondisinya mulai memprihatinkan.
Dalam 15 menit, kata dia, jumlah warga yang diduga keracunan nasi dus tersebut terus bertambah dan langsung dibawa ke rumah sakit.
Tabel 1 : Gejala Keracunan Makanan warga Desa Cibeureum, Cianjur, Jawa Barat

NO


GEJALA

JUMLAH PENDERITA

PERSENTASE %
1

Mual
20
37.73%
2

Sakit Kepala
7
13.20%
3
Keram Perut

18
33.96%
4
Muntah

8
15.09%

Jumlah

53 Orang
100%


Grafik Batang Gejala Keracunan Makanan

Persentase Gejala Penyakit

4.      Jenis Makanan yang Dikomsumsi dan Hubungannya dengan Angka Kesakitan (Morbiditas)
Keracunan setelah menyantap nasi dus yang jenis makanannya Nasi, Sayur dan Tempe pada acara tujuh bulanan seorang warga.
Berdasarkan data tersebut, dapat pula dideskripsikan hubungan antara menu makanan yang dikonsumsi dengan jumlah kasus keracunan makanan yaitu sebagai berikut:



Tabel 2 : Data Hubungan Komsumsi Makanan dengan Kasus Keracunan Makanan warga Desa Cibeureum, Cianjur, Jawa Barat.

No


Jenis Makanan
Makan Makanan Tertentu
Tidak Makan Makanan Tertentu


AR

Sakit

Tidak Sakit


Total

%





Sakit
Tidak Sakit
Total
%
1

Nasi
32
21
53
60.37%
12
34
46
26.08%
34.29
2

Sayur
40
13
53
75.47%
7
39
46
15.21%
60.26
3

Tempe
36
17
53
67.92%
16
40
46
34.78%
33.14
4

Air Minum
15
38
53
28.30%
9
37
46
19.56%
8.74
5
Mie
50
3
53
94.33%
22
24
46
47.82%
46.51










Grafik Makan Makanan Tertentu

Grafik tidak Makan Makanan Tertentu
5.      Perhitungan Attack Rate (AR)
Perhitungan Attack Rate (AR) data kasus KLB berdasarkan jenis makanan tertentu yang dikonsumsinya. Rumus umum:
% AR = % sakit (makan) - % sakit (# makan)
Ø  Nasi                       = 60.37 – 26.08 = 34.29
Ø  Sayur                     = 75.47 – 15.21 = 60.26
Ø  Tempe                    = 67.92 – 34.78 = 33.14
Ø  Air Minum             = 28.30 – 19.56 = 8.74
Ø  Mie                        = 94.33 – 47.82 = 46.51
Grafik Attack Rate (AR)

6.      Menghitung Case Fatality Rate (CFR)
Jumlah orang yang meninggal dari kasus KLB tersebut Tidak ada, jadi Case Fatality Rate (CFR)nya adalah Tidak Terjadi Angka Kematian pada KLB tersebut.
Jadi, angka kematian untuk kasus keracunan yaitu  CFR 0 %.








B.     Analisa Hasil
Dari data yang diperoleh mengenai kasus Keracunan Makanan yang terjadi di Desa Cibereum, Cianjur, Jawa Barat, pada hari Sabtu (14/2/2015) sekitar pukul 22.15 WIB, menyebabkan 53 orang keracunan makanan dari 100 orang yang hadir di Acara Tujuh Bulanan Seorang warga maka dari itu dapat dianalisa bahwa dari 53 orang yang keracunan makanan masing-masing ada gejala penyakit yang dialami seperti Mual, Sakit Kepala, Keram Perut, dan Muntah.
Dan dari gejala penyakit yang ada rasa Mual yang paling banyak di derita oleh warga yang hadir diacara tersebut dengan persentase 37.73%  dan jenis makanan yang banyak  menyebabkan angka kesakitan adalah Mie karena dari 53 orang yang makan rata-rata makan Mie, maka dari itu Mie sebagai factor utama penyebab keracunan makanan hal ini disebabkan karena mie tersebut diduga mengandung formalin dan boraks karena untuk mempertahankan daya awet mie sehingga pedagang bisa mencampurkan BTM yang berbahaya pada makanan. Sehingga pada saat acara tujuh bulanan di salah satu rumah warga, terjadi KLB tentang Keracunan Makanan akibat makan mie yang mengandung Formalin dan Boraks dan bahan bakunya sudah kadaluarsa, sehingga dari 53 orang yang sakit 50 yang makan mie maka dari itu mie dikatakan sebagai kasus penyebab keracunan makanan.
Dan jumlah orang yang meninggal dari keracunan makanan ini adalah 0% atau tidak ada angka Mortalitas.







BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari hasil penelitian kasus tentang KLB Keracunan Makanan dapat disimpulkan bahwa jenis penyakit yang diderita warga setelah makan nasi dus untuk acara tujuh bulanan adalah Mual, Sakit Kepala, Perut Keram,dan Muntah.
Dan jumlah warga yang terkena Keracunan Makanan adalah 53 orang dari 100 orang yang hadir pada acara tujuh bulanan di rumah warga tersebut. Dan 53 orang ini ada 50 orang atau37.73% yang merasakan mual akibat makan Mie karena diduga mie mengandung bahan tambahan makanan yang berbahaya seperti Formalin dan Boraks.
Cara penanganan dari kasus keracunan makanan tersebut adalah semuanya dibawah ke RSUD Cianjur untuk perawatan dan diagnose oleh dokter. Dan untuk sampel makanan sperti mie akan ditinjak lanjuti dengan pemeriksaan di Laboratorium.

B.     Saran
Dari Kasus tentang KLB Keracunan Makanan tersebut saran saya yaitu sebaiknya dalam pemilihan bahan makanan harus ditempat yang memiliki sertifikat BPOM sebagai tanda bahwa restoran atau warung makan tersebut tidak ada Bahan Tambahan Makanan yang ditambahkan dalam makanan yang mereka jual.
dan saran untuk pemerintah sebaiknya jika terjadi kasus KLB Keracunan Makanan harus ditindaklanjuti dan setiap rumah makan harus diperiksa sampel makanannya dan diberi sertifikat oleh BPOM sebagai tanda bahwa layak dikomsumsi.






DAFTAR PUSTAKA




















LAMPIRAN KASUS
Makan Nasi Hajatan, 53 Orang Diduga Keracunan Makanan
Minggu, 15 Februari 2015, 06:10 WIB

         
REPUBLIKA.CO.ID,CIANJUR--Puluhan warga Desa Cibeureum, Cianjur, Jawa Barat, dibawa ke RSUD setempat, Sabtu (14/2/2015) sekitar pukul 22.15 WIB karena diduga keracunan setelah menyantap nasi dus yang jenis makanannya Nasi, Sayur,Tempe,Air Minum dan Mie pada acara tujuh bulanan seorang warga.
"Usai shalat Magrib, ada pengajian dan ceramah dari ustaz setempat. Ketika hendak pulang, kami diberi nasi dus dari yang punya hajat. Bahkan, beberapa orang ada yang makan di tempat acara," kata Aan Husen (32 tahun), warga Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang.
Selang beberapa puluh menit usai menyantap nasi dus tersebut, beberapa orang warga mengeluhkan mual, sakit kepala, perut terasa keram dan muntah. Beberapa orang di antaranya terpaksa dilarikan ke RSUD Cianjur karena kondisinya mulai memprihatinkan.
Dalam 15 menit, kata dia, jumlah warga yang diduga keracunan nasi dus tersebut terus bertambah dan langsung dibawa ke rumah sakit.
Sementara itu, seorang perawat di IGD RSUD Cianjur membenarkan hingga menjelang tengah malam jumlah warga Cibeureum yang mengalami keracunan terus bertambah, yakni dari 11 orang menjadi 53 orang.
"Sebagian besar mengeluhkan hal yang sama mual, pusing dan muntah. Kami belum bisa memastikan penyebabnya karena bukan wewenang kami. Namun, melihat gejalanya sebagian besar warga mengalami keracunan, kondisi mereka sebagian besar mengalami dehidrasi," kata perawat berkacamata itu.
Ia memperkirakan jumlah warga yang keracunan akan terus bertambah karena informasi yang didapat dari warga yang mengantarkan korban keracunan, jumlah warga yang ikut dalam acara tujuh bulanan itu 100 orang.
"Saat ini kami cukup kewalahan karena jumlah korban terus bertambah dan diperkirakan akan terus bertambah, sedangkan IGD saat ini sudah penuh, kemungkinan korban lain akan ditangani di luar IGD,".